Belajar Politik

caleg-dulu

caleg sekarang dan dulu

Saya mendapat imej ini dari teman saya yang posting di FB dan entah darimana sumbernya. Namun jelas terlihat bahwa imej ini berasal dari Rakornas salah satu partai politik di Indonesia. 

Saya pribadi, sebagai orang yang bego politik, merasa bahwa belajar politik itu membingungkan. Gimana nggak, lha wong jelas di imej terlihat dulu mereka kompak dan kayaknya sih seolah mereka ingin bersatu tapi kalau dilihat sekarang…waduh keempatnya mengusung partai politik masing-masing. Pak Wiranto dengan HANURA, Pak Prabowo dengan GERINDRA, Pak Akbar Tanjung entah kemana, Pak ARB masih di GOLKAR dan Pak Surya Paloh dengan NASDEM.

Pengamatan awam saya ada dua kemungkinan kalau melihat kondisi sekarang:
1) Mereka benar-benar memperjuangkan Partai Politik masing-masing untuk kepentingan masing-masing pula. Dalam hal ini ada garis/haluan yang fundamental sehingga mereka berpisah. Atau bisa juga karena masing-masing ingin mendapat porsi kekuasaan yang lebih besar di Legislatif dan Eksekutif dibandingkan apabila mereka bergabung bersama.
2) Mereka membangun partai politik masing-masing dengan tujuan untuk menguasai Pemerintahan dimana pada akhirnya semua merapat menjadi satu kesatuan lagi, yakni mendukung GOLKAR, meskipun partai politik mereka berbeda.

Tapi apapun rencana mereka, yang pastinya masyarakat Indonesia banyak yang bingung karena ibarat strategi jualan pasta gigi, rencana kerja partai politik apapun di Indonesia intinya sama saja, janjinya sama saja, implementasi kerjanya sama saja, dan hasilnya juga sama saja. Yang membedakan cuma bajunya alias merek dagangnya.

Kalau sudah melihat seperti ini sih susah, tapi ibarat kalau jualan itu sering harus bagi rejeki dengan kompetitor sebaiknya Partai Politik juga sama, karena di alam bisnis ada yang namanya market leader dan ada yang namanya follower. Jika mereka punya jiwa besar ya seharusnya yang jadi pemenang nantinya harus punya tanggung jawab mau dibawa kemana Indonesia 100 tahun ke depan. Nah yang gak menang jangan lantas merasa ingin ambil alih…biarlah mereka mengisi kekosongan yang belum bisa diisi oleh sang pemenang. Misalnya partai yang menang tentunya bisa membentuk kabinet, tetapi yang kalah biarlah mengambil posisi sebagai evaluator jalannya Pemerintahan, tapi yang sportif kalau bagus ya didukung kalau tidak bagus kebijakannya ya dikritik.

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s