Romantisme Obama-Indonesia

A Night to Remember

A Night to Remember

Bagi rakyat Indonesia, nama Barack Obama sepertinya sudah tidak asing lagi di telinga sehingga ketika beliau maju dalam pilpres AS baru-baru ini membuat banyak masyarakat yang antusias mengikuti perkembangannya, dari mulai politisi kawakan, manajer perusahaan hingga tukang sapu jalanan dan satpam. Padahal dulu ketika jaman Bush, AS seolah-olah adalah momok, biang, dan dalang berbagai ketidak adilan yang terjadi di dunia ini dan banyak orang benci AS. Namun semuanya seolah-olah disihir oleh Obama sehingga AS malah seperti kakak sendiri yang siap memeluk dan membela Indonesia.

Kemenangan Obama pada 5 November 2008 kemarin memang merupakan momen historis yang tidak mungkin terlupakan karena Obama terpilih menjadi presiden AS berkulit hitam pertama, dan juga mempunyai latar belakang keluarga yang berasal dari 3 benua.

Jika dilihat kedekatannya dengan Indonesia, Obama memang sangat dekat. Bagaimana tidak, adik tiri yang paling disayangnya adalah campuran Indonesia-AS. Lalu beliau juga pernah mengenyam sekolah SD selama 4 tahun di Menteng, Jakarta.

Belum lagi Obama masih fasih berbicara bahasa Indonesia. Hobinya main gundu atau kelereng, menangkap capung bersama dengan anak-anak kampung, dan gemar nonton kartun Batman bersama rekan-rekan sekelasnya di SDN 01.

Sedikit tambahan nostalgia antara Obama dan Indonesia. Obama punya kakak angkat bernama Lia alias Mbak Non. Nama Mbak Non sendiri merupakan panggilan khusus Obama kepada Lia. Lia merupakan teman main, teman tidur, dan teman makan Obama, bahkan waktu itu Obama pernah mogok masuk kelas kalo tidak ditemani Lia. Lia pun sempat 3 bulan di Hawaii karena Obama tidak mau kesana tanpanya.

Selain itu (lihat di Metro TV), beberapa waktu yang lalu seorang analis warga AS yang lama tinggal di Indonesia (bernama Jane) berkesempatan bertemu dengan Obama di dalam kampanye capres. Si jane ini ngetes apakah Obama masih bisa bahasa Indonesia. Kira-kira begini dialognya (semua asli dalam bahasa Indonesia):

Jane: Selamat Pak, semoga sukses kampanyenya!

Obama: Terima kasih. Kamu bisa bicara bahasa Indonesia? Belajar di mana?

Jane: Saya tinggal di Jakarta.

Obama: Saya dulu juga tinggal di Jakarta.

Namun semua kisah manis diatas sebenarnya hanyalah sebuah romantisme historis kehidupan Obama, dimana Indonesia sebagai setting background-nya. Untuk itu, sepertinya terlalu berlebihan apabila kita berharap Obama, di dalam kepemimpinannya nanti, akan condong melihat Indonesia.

Gue yakin setelah dilantik tanggal 20 Januari 2009 nanti, cara pandang Obama terhadap Indonesia akan sama seperti Presiden AS sebelum-sebelumnya. Kebijakan luar negerinya pun pastinya akan sesuai dengan agenda sesuai prioritas kepentingan AS, seperti resesi ekonomi global, penuntasan masalah Irak, konflik Israel-Palestina, isu nuklir Korea Utara, dan hubungan AS-Rusia dan AS-China.

Justru bagi gue, dengan kemenangan Obama ini, seharusnya Indonesia bisa mengambil nilai-nilai positif perjuangan Obama, jangan cuma terharu dengan romantisme historisnya saja.

Buat calon pemimpin bangsa, seharusnya melihat bagaimana Obama mencoba menyatukan suara rakyat AS yang terpecah oleh banyak isu sosial-politik-ekonomi, berbicara politik dari hati nurani, kejujuran dan kesungguhan untuk memajukan negara, dan kesungguhan untuk merangkul semua partai atau golongan oposisi demi membangun negara.

Buat rakyat Indonesia, seharusnya melihat apa yang diperjuangkan Obama terhadap rakyat AS dapat menjadi contoh yang baik bagi kita. Rakyat AS terbelenggu oleh masalah ekonomi kita juga, rakyat AS ingin perubahan kita juga, rakyat AS ingin perdamaian dan kerukunan kita juga, rakyat AS ingin kesehatan lingkungan kita juga. Jadi….kenapa tidak mulai kita lakukan perbaikan dari diri sendiri?

3 Comments

  1. gw pikir kita belum bisa menilai kebijakan obama sebelum melihat realitasnya nanti setelah beliau menjabat.
    namun kita mesti menghargai proses demokasi di AS, bukannya seperti di kita. awalnya siap menang dan siap kalah tapi kenyatannya adu jotos.
    belum lagi tidak puas dengan partainya kemudian bikin partai baru, rasanya nyeleneh gitu mau dibawa kemana bangsa ini, padahal kalo mo ngebantu rakyat miskin ya dananya langsung disalurkan aja gitu, ngak usah repot2 bikin partai.
    thanks piko….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s