Pemimpin Idola itu adalah ….

Barack Obama

Barack Obama

Ada pepatah bijak mengatakan, “Lebih baik mengidolakan seorang pemimpin yang terbaik dari yang terburuk daripada tidak sama sekali”. Dan itulah yang gue pikirkan sekarang, dimana menjelang Pemilu 2009 ini, gue merasa bahwa belum ada sama sekali pemimpin di Indonesia yang bisa gue idolakan. Maka gue lebih melirik kepada seorang sosok pemimpin yang nun jauh di sana, tepatnya di negeri seberang, yakni Amerika Serikat dan orang tersebut adalah Barack Obama. Terbaik karena memang Barack Obama adalah yang terbaik, Terburuk karena Barack Obama bukan pemimpin dari Indonesia.

Kenapa gue lebih melihat sosok Barack Obama sebagai seorang pemimpin yang layak gue idolakan? Pertama karena Obama merupakan sosok karakter yang terbangun dari beberapa ras bangsa di dunia, yakni Negro Kenya, Kaukasian AS, dan Asia Indonesia. Kedua, Obama tidak melihat masyarakat sebagai sebuah obyek yang terkotak-kotak melainkan Obama menganggap bahwa setiap manusia adalah sama dan hanya budaya saja yang membedakan satu manusia dengan manusia lainnya. Ketiga, manuver politiknya bukanlah untuk kepentingan pribadi semata namun Obama terlihat lebih mengutamakan kepentingan negaranya, yakni AS. Keempat, Obama adalah seorang pemimpin yang sangat terpelajar dan cerdas. Kelima, kepemimpinan Obama dimulai dari simpati dan perjuangan dari bawah.

Barack Obama dilahirkan di Honolulu, Hawaii dari ayah seorang ekonom lulusan Harvard University, Barack Hussein Obama dari Kenya, dan ibu Ann Dunham, dari Wichita, Kansas.Mereka bertemu ketika sama-sama kuliah di East-West Center di Hawaii University. Namun ketika berusia dua tahun, orangtuanya bercerai. Ann Dunham kemudian menikah dengan rekan mahasiswa dari Indonesia bernama Lolo Soetoro dari Indonesia.

Masa kecil Obama dihabiskan di Jakarta dengan nama panggilan Barry, dan adik tirinya lahir di Jakarta, dengan nama Maya Soetoro. Obama kecil kemudian mengenyam sekolah dasar di SD Menteng 01 hingga setelah berumur 10 tahun, Obama kembali ke Hawaii dan diasuh oleh kakek-neneknya (Dunham).

Kecemerlangan otak Obama membawanya kemudian masuk ke Columbia University New York (lulus 1983) dan Law School of Harvard University (lulus 1991), dan mulai dari sinilah Obama terlihat sebagai seorang yang luar biasa. Setelah menjadi ketua mahasiswa Law Students berkulit hitam pertama, Obama mulai tertarik dengan dunia politik. Meskipun sempat terjerumus ke dalam dunia narkoba, namun setelah menikah dengan Michelle Robinson (1992), kehidupan Obama berubah menjadi seorang suami dan ayah yang sangat mengutamakan keluarga.

Obama tidak pernah terpikir untuk menjadi seorang presiden, namun jika dilihat dari hasil karangannya ketika SD di Menteng, Obama memang pernah menulis karangan bahwa dia bercita-cita menjadi seorang Presiden. Hal tersebut terlupakan ketika Obama sempat merasa gundah akibat dia merasa tidak bisa menemukan jati dirinya sebagai kulit hitam, Obama juga merasa bukan seorang kulit putih. Namun akhirnya Obama bertekad bahwa AS bukanlah sebuah negara kulit hitam maupun kulit putih, AS adalah sebuah negara besar yang dibangun oleh banyak ras dan Obama adalah bagian dari semuanya.

Kepiawaian Obama menuju ajang kepresidenan pertama kalinya dilirik oleh John F. Kerry (nomine presiden Demokrat). Kerry pada saat itu memang sedang mencari seorang orator handal yang tidak berbicara tentang hal klise namun hal-hal yang bersifat realitas. Maka jatuh cintalah Kerry terhadap Obama yang ketika itu dilihat mempunyai sesuatu yang lain, yakni kharisma dan kesederhanaan.

Ketika para pembesar politik di AS sibuk berpidato tentang hal yang terlalu muluk-muluk, Obama berhasil merangkul berbagai kalangan masyarakat dengan cara pandang politiknya yang mengesampingkan aspek pengkotakkan politik dan ras. Dari seorang calon kulit hitam yang tidak dikenal, Obama menjadi Senator AS dengan kesediaan bekerja sama dengan siapapun, termasuk Senator Republik yang merupakan rival politiknya.

Dari sinilah, rakyat AS melihat sosok Obama bukan sebagai seorang Demokrat namun seorang politisi yang jujur, pintar, tidak melihat ras dan ingin mengubah peta politik AS yang terpecah menjadi sebuah agenda yang satu, yakni untuk memajukan AS dan bukan kelompok tertentu.

Ditambah lagi, Obama memiliki komitmen yang jelas, idealis dan ambisius, tidak seperti politisi lainnya yang bias. Sejak awal Obama jelas menyatakan “Say No to Iraqi War”, lebih mengedepankan politik luar negeri yang bebas-terbuka dan mengedepankan jalur diplomasi untuk setiap permasalahan luar negeri, termasuk keinginan untuk bekerja sama dengan Rusia dalam mengamankan isu nuklir dunia, memperjuangkan perdamaian Timur-Tengah, membantu negara-negara miskin dalam pengentasan masalah ekonomi, dan membangun aliansi baru yang kuat di Asia (sepertinya ada pengaruh historis-Indonesia disini).

Lalu bagaimana dengan sosok para pemimpin di Indonesia? Apakah ada yang mirip dengan Obama saat ini? Hmmm…sepertinya gue belum melihat satu sosok pun, semuanya masih sibuk tiarap menghadapi KPK, sibuk dengan kampanye politik partai dan terlalu sibuk memikirkan ketenaran pribadi dengan mengatasnamakan yel “Demi Rakyat”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s