Hentikan Pembunuhan Anak-Cucu Kita: Go Green!

Fakta membuktikan bahwa 3 dari 4 jenis obat yang kita minum berasal dari tumbuhan. Setiap rumah dan tempat tinggal di dunia pasti mempunyai paling tidak hiasan rotan atau ukiran atau rak kayu atau minimal plywood (triplek). Atau apapun yang kita makan dan minum pasti terdiri dari unsur nabati dan hewani. Atau, setiap hari manusia bekerja membutuhkan kertas dan kertas berasal dari kayu.

Tapi tahukah bahwa semua itu merupakan sumberdaya alam dan bagian dari alam yang manusia ambil dan seharusnya dikembalikan lagi seperti sedia kala? Nampaknya sebagian besar manusia di dunia, terutama kalangan muda yang hidup di wilayah perkotaan, kurang menyadari bahwa kita selama ini ’pinjam’ semua kebutuhan dari alam. Banyak pula yang sadar hanya setengah, alias mereka melakukan penghijauan tapi lupa bahwa yang terpenting dari keseimbangan alam adalah biodiversity dan bukan sekedar menanam tanaman yang asal cepat tumbuh dan sejenis saja.

Bayangkan, alam di bumi ini sudah semakin mendekati kepunahan. Di negara berkembang, ekstensifikasi pertanian sangat umum terjadi sehingga pembabatan hutan menjadi hal yang lumrah dengan alasan untuk kepentingan tingkat pemenuhan konsumsi masyarakat dan ekonomi. Banyak perusahaan yang hanya mengejar label ’CSR’ atau agar disebut sudah melakukan Corporate Social Responsibility, kemudian mengumumkan pada pers bahwa perusahaan telah menyumbangkan 1000 pohon untuk penghijuan, tetapi yang disumbangkan ya pohon jenis yang itu-itu juga. Belum lagi di negara maju berlangsung praktek peternakan yang lebih mementingkan aspek industrialisasi ketimbang mempertahankan keaslian dan keragaman sumber hewani. Perburuan paus demi kepuasan rasa di lidah yang umum disebut ’hobi kuliner’. Burung-burung ditangkap dengan alasan sebagai hobi dan supaya lebih dekat dengan alam, sedangkan burung lain yang berada di alam bebas terancam punah karena tidak ada lagi tempat bernaung, yakni hutan.

Padahal jika dikaji lebih dalam, semua aktifitas tersebut mempunyai andil yang sangat besar untuk memusnahkan manusia itu sendiri, dimana manusia juga merupakan mahluk hidup dan bagian dari alam di bumi ini. Sadar atau tidak sadar, manusia yang hidup di jaman ini memang sedang mempersiapkan diri untuk melakukan pembunuhan massal untuk anak dan cucu mereka yang hidup di masa depan.

Kita, sebagai individu, setidaknya bisa memperlambat atau bahkan menghentikan global warming atau istilah tepatnya pemusnahan massal anak-cucu kita, seperti:

Kendaraan bermotor (mobil dan motor) menyumbangkan polusi berupa gas CO dan CO2 yang signifikan sehingga menimbulkan efek rumah kaca. Yang bisa kita lakukan adalah minimal mengusahakan penghijauan di sekitar kita, atau stop penggunaan mobil/motor dan mulailah melirik ke sepeda dan jalan kaki ditambah menanam jenis pohon hutan minimal 1 pohon setiap kali kita ulang tahun.

Plastik adalah bahan yang sangat susah didaur ulang secara alami sehingga dalam jumlah yang banyak dianggap sebagai polutan. Hindarkan penggunaan plastik secara berlebihan, kalau perlu miliki plastik maksimal 3 yang digunakan berulang-ulang.

Setiap tahun, hutan seluas Republik Perancis lenyap dari bumi. Artinya kita harus mulai melakukan pengiritan terhadap penggunaan kertas. Toh teknologi komputer sangat membantu urusan pekerjaan manusia, mengapa tidak kita mulai saja kampanye kerja paperless.

Selama satu dekade ini lebih dari 100 spesies tanaman maupun hewan punah dari muka bumi. Mari kita perangi penyelundupan satwa langka. Jangan beli burung langka yang tiba-tiba muncul di pasar Pramuka atau pasar burung dimanapun, karena jika dibeli dengan alasan apapun akan membuat si penjual mencari lagi karena dianggap laku.

Masih banyak sekolah dasar yang tidak mengajarkan pemahaman tentang pentingnya melestarikan lingkungan hidup. Sebagai orangtua, kakak, atau teman, sebaiknya mulai detik ini terapkanlah pentingnya melestarikan lingkungan hidup dari diri sendiri dan ajarakan kepada orang lain juga.

3 Comments

  1. Kadangkala kita baru tersadar ketika semua hilang…. Hari ini semua butuh uang. Memang uang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya butuh uang. Aktifitas keseharian yang katanya mrusak lingkungan ujung-ujungnya adalah untuk uang. So, jika gak rusak lingkungan apakah gak membunuh anak cucu kita juga? Kita gak bisa hidup hari ini karena gak ada uang, maka gak ada itu anak cucu…. heu heu heu….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s