Geliat Bahan bakar Nabati

Wah, dengan meningkatnya harga minyak dunia maka hampir otomatis seluruh negara yang mengimpor minyak jadi, termasuk Indonesia, harus pontang-panting mengurus berbagai persoalan, dari mulai keuangan negara, masalah sosial yang timbul, meningkatnya jumlah orang miskin, hingga konflik politik yang mungkin terjadi.

Ternyata dibalik carut-marutnya berbagai masalah yang dihadapi Pemerintah, timbul secercah harapan. Beberapa waktu yang lalu Pemerintah akhirnya mengambil kebijakan dimana mulai September 2008, setiap industry nantinya wajib menggunakan Bahan Bakar Nabati (BBN) minimal 2,5% dari kebutuhan konsumsi bahan bakarnya (dikutip dari harian umum Pikiran Rakyat).

Terlepas dari masalah tentang berbagai persiapan menuju September 2008, langkah ini patut kita puji dan dukung sebagai salah satu upaya Pemerintah untuk ‘melepaskan diri’ dari ketergantungan akan konsumsi Bahan Bakar Fosil (BBF). Sedangkan sumber energi yang diharapkan dapat menghasilkan, dikutip dari harian yang sama, juga termasuk melimpah dan siap diproses lebih lanjut. Perkebunan kelapa sawit dan tebu yang mencapai 1.023.575 hektare siap menyumbangkan bio fuel, belum lagi sumbangan dari singkong seluas 52.215 hektare, sorgum manis seluas 20 hektare, dan jarak pagar 151.240 hektare.

Jika ini berhasil, berarti Pemerintah tidak saja menyelamatkan APBN namun berhasil menjadi change agent yang men-drive kebutuhan masyarakat dari konsumen BBF menjadi konsumen BBN. Perusahaan pun seharusnya dapat melihat hal ini sebagai peluang bisnis baru, yakni dimulai dari peluang bisnis perkebunan tanaman pendukung BBN, membuka industri pengolahan bahan menjadi crude oil, hingga peluang bisnis distribusi BBN.

Untuk kita, sebagai warga negara, sebaiknya kita dukung kebijakan ini agar Pemerintah semakin semangat untuk menelurkan kebijakan lain yang mendukung pelestarian lingkungan hidup dan efisiensi energi.

1 Comment

  1. betul kita harus mulai mencari solusi sumber alternatif energi baru, terutama sumber energi yang berbasis sumber yang dapat diperbaharui, selain memberikan output energi juga dapat memberikan insentif lain berupa lahan kerja yang baru

    negara-negara lain sudah lebih dulu lebih aktif merintis alternatif sumber energi lain

    memang untuk bisa sukses memerlukan sinergi dan kerjasama antara pemerintah, akademisi, masyarakat umum

    semoga Indonesia bisa …dan harus bisa

    Nice Article Mas🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s