Memahami Kemenangan Obama

obama&hillary

Rakyat Amerika Serikat nampaknya sedikit bernafas lega setelah pertarungan panjang antara Hillary Clinton dan Barack Obama untuk memperebutkan kandidat Partai Demokrat menuju kursi Kepresidenan berakhir sudah dengan kemenangan Obama.

Ribuan kilometer dari Amerika Serikat, yakni di sebuah negara dengan penduduk yang tidak kalah banyak jumlahnya dibandingkan jumlah penduduk Amerika Serikat juga turut merayakan kemenangan Obama. Ya….nama negara tersebut adalah Indonesia.

Memang wajar saja banyak dari warga Indonesia yang turut menyambut kemenangan Obama. Pertama, karena Bari (nama panggilan) merupakan seorang politisi muda yang belum banyak terkontaminasi permainan politik gaya lama. Kedua, karena Bari berasal dari kaum minoritas, yakni kaum kulit berwarna. Ketiga, Bari punya sejarah panjang dengan Indonesia dimana ayah tirinya adalah orang Indonesia asli (alm. Lolo Sutoro) dan adik kandung seibunya Maya Sutoro. Keempat dan yang paling penting menurut kebanyakan orang, nama tengah Obama adalah Hussein.

Bagi masyarakat yang memilih alasan keempat tersebut merupakan warga Muslim yang berharap bahwa suatu saat jika Bari terpilih maka diandaikan bakal sedikit mendengar ’bisikan’ agama sang ayah Mr. Obama, kemudian terketuk untuk mendengarkan hati nuraninya, dan dengan Amerika Serikat yang dipimpinnya akan mendesak Israel untuk melepas Palestina, bahkan lebih jauh lagi mendamaikan Timur Tengah yang hingga saat ini selalu panas. Atas dasar ini, banyak penulis buku bernuansa Islam di Tanah Air akhirnya tergerak untuk mengkisahkan sejarah Barack Hussein Obama.

Namun Bari, yang pernah mengidolakan Semar dan doyan main gundu ini, tetaplah seorang politisi. Kemenangan dan kesuksesan seorang politisi sangat ditentukan oleh lobi-lobi politik dengan kelompok yang mampu memberikan jaminan kemenangan, walaupun harus mengorbankan hati nurani. Maka pernyataan pertama Bari, pada pidato kemenangannya atas Hillary Clinton, tidaklah terlalu mengejutkan.

Bari, di dalam pidatonya, membuat pernyataan politik yang menyebutkan jika Bari menang maka dia akan menjamin bahwa kota Jerusalem adalah mutlak ibukota Israel yang sah. Begitu pula bahwa Iran merupakan sebuah negara yang menjadi ancaman bagi dunia. Padahal kedua isu tersebut termasuk masalah yang sensitif dimana banyak negara mengharapkan dengan lengsernya Bush Jr. nanti maka Presiden Amerika Serikat yang baru mungkin akan membawa perubahan positif terhadap jalannya perdamaian dunia, atau setidaknya mengikuti arus pendapat dunia yang sudah cukup muak melihat permainan solitaire dari Amerika Serikat.

Bagi gue, pernyataan Bari adalah sebuah hal yang wajar karena memang kelompok Yahudi Amerika (baca: penguasa Amerika Serikat sebenarnya) mungkin jauh hari sudah mencium bau kemenangan bakal ada di tangan Bari. Seperti yang gue ketahui sejauh ini, Eropa dan Amerika memang secara kapital sudah dikuasai kelompok Yahudi. Dengan penguasaan kapital tersebut maka di dunia yang penuh dengan pandangan materialistis ini tentu sama saja dengan menguasai banyak aspek kehidupan lainnya.

Apa sih efeknya bagi Indonesia jika Bari menjadi Presiden Amerika Serikat? Jika Bari menang tentunya nasib bangsa Indonesia tetap tidak akan berubah jika bukan bangsa Indonesia itu sendiri yang berniat dan beraksi untuk merubahnya menjadi Indonesia yang lebih baik.

Namun setidaknya, secara positif kebijakan Bari akan lebih lunak untuk berbagai masalah yang bersifat bilateral dengan Indonesia. Hal ini dimungkinkan karena perjalanan politik Bari memang banyak terinspirasi oleh pengalaman kecil Bari ketika masih di Indonesia. Apalagi Bari, di dalam kampanyenya, banyak bercerita mengenai keindahan dan ’personal view’ tentang Indonesia sehingga gue yakin bahwa Bari tidak akan melihat Indonesia sebagai suatu yang harus disikapi secara rasional saja namun juga emosional.

Selain itu, adik satu-satunya Bari, yakni Maya Sutoro diyakini mampu memberikan pengaruh cukup besar terhadap penilaian kebijakan-kebijakannya nanti. Belum lagi Bari memang merasa bahwa Indonesia dan Amerika Serikat merupakan dua buah negara yang sebenarnya kembar. Kembar karena sama-sama multi culture, multi ethnic, multi religion, jumlah penduduknya banyak, dan sama-sama menjunjung tinggi demokrasi…belum lagi lambang negaranya sama-sama burung elang…hehehe.

Secara demografis sih Bari benar tapi kalo ditinjau lebih dalam lagi sebenarnya nggak juga, ada bedanya….bedanya Indonesia itu diurus secara salah selama ini…salah karena Pemerintahannya kurang profesional, partai politiknya lebih mementingkan golongan sendiri, kebanyakan orang Indonesia lebih suka manajemen kebakaran jenggot, lebih senang mencari kambing hitam jika ada masalah, masyarakatnya suka hal klenik dan mimpi, dan banyak hal lainnya yang harus dibenahi.

Kalo Amerika Serikat, politisi Amerika bertarung demi memperjuangkan ide-ide mereka dalam memajukan negara, kebanyakan pemimpin dan rakyat Amerika Serikat melakukan hal yang berlandaskan visi dan prediksi ke depan, lebih suka hal-hal yang jelas terlihat dan tidak mengandalkan aspek tahayul, dan mencari kambing hitam apabila kambing tersebut memang layak dijadikan hitam, asalkan menguntungkan Amerika Serikat…hehehe…lagi.

Gue sih, hanya berharap bila Bari menang maka dia akan membawa banyak pembaharuan di politik Amerika Serikat sehingga negara ini tidak lagi menjadi sebuah negara yang ditakuti dan dibenci. Gue juga berharap bahwa penganut agama Islam akan dipandang setara dengan penganut agama lain sehingga masyarakat dunia tidak lagi curiga dengan Islam…dan ini dimulai dari Amerika Serikat. Long live US!…eh salah dink..Long live Indonesia!!!…huzzaaaaaahhh…

8 Comments

  1. yak betul, nama ‘hussein’ dan juga Indonesia dimana Obama pernah tinggal sebenarnya hanyalah sebuah nuansa romantisme historis yang dirasakan oleh orang Indonesia.

    Belum tentu Obama, dengan tugas-tugasnya nanti setelah menjadi Presiden, bakal memihak apalagi mendengar suara hati orang Indonesia.

  2. hmmm…tentang ini cukup menarik di perbincangkan. tapi satu hal yang membuktikan bahwa sebagai bangsa indonesia kita sudah benar2 terpuruk. ada indikasi seakan-akan kita mengemis terhadap mr. obama yang katanya pernah bersekolah di indonesia. mengemis seraya mengharap mr. obama melihat masa lalunya bahwa dia pernah di indonesia dan dia memiliki ayah yang asli indonesia. it’s ok. mungkin kita sudah berada pada batas paling bawah keputus asaan untuk bangkit. kemudian mengenai yang katanya kaum minoritas…hmm ini juga seru. bagai mana dgn indonesia??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s