Wedus Gembel & Tukang Sapi

Wilayah sekitar Gunung Merapi selama ini terkenal dengan lahannya yang subur dan kondusif sebagai lokasi untuk usaha peternakan sapi, baik sapi potong maupun sapi perah. Sebut saja wilayah, Sleman, Boyolali, dan Klaten. Wilayah-wilayah tersebut dikenal telah banyak menyumbang suplai daging merah di Pulau Jawa.

Terkait dengan hal itu, tentu budaya masyarakatnya pun sudah mengakar menjadi budaya peternak dimana rutinitas kegiatan masyarakat disana tidak jauh-jauh berkutat masalah rumput, bekatul dan jual-beli ala blantik. Hal ini menjadikan hewan ternak sapi sebagai bagian dari hidup mereka.

Nah, ketika Gunung Merapi  kerap mengeluarkan Wedhus Gembel hampir setiap harinya, peternak disana bukannya takut melainkan seolah cuek demi ternaknya tercukupi pakan. Hal ini membuat Pemda pusing tujuh keliling karena mereka sangat sulit dikontrol. Pernah pula Pemda menginstruksikan agar ternak sapi dan kerbau dievakuasi namun bukannya para peternak itu setuju malah menentang. Para peternak itu berkilah karena takut sapinya tertukar dengan ternak punya orang lain. Bahkan para istri mereka pun banyak yang terlihat menangis karena takut suaminya terpanggang Wedhus Gembel tatkala memberikan pakan ke ternak mereka.

Menurut gue sebenarnya cukup konyol juga karena Dinas Peternakan pastilah punya peralatan Ear Tagging. Apalah artinya menyumbang beberapa juta untuk pengadaan ear tag dan sedikit usaha dengan meng-ear tag seluruh ternak yang dievakuasi sambil mendata sapi berikut pemiliknya. Gue jamin tidak ada yang tertukar kecuali kalau ada yang iseng mencopot atau menukar ear tag.

Gue pribadi sangat berharap agar bukan berbagai dinas terkait bencana saja yang ikut turun ke lapangan. Seharusnya Dinas Peternakan – Departemen Pertanian seharusnya mengambil langkah-langkah taktis guna menyelamatkan aset negara, dimana daerah-daerah tersebut selama ini khan terkenal dengan sentra peternakan sapinya.

Soalnya sedih aja kalau selama ini Pemerintah berkoar-koar bahwa Indonesia kekurangan populasi sapi, eh pas ada kejadian force majeure seperti ini malah adem ayem tidak cekatan menyelamatkan para sapi-sapi itu. Tapi bisa saja karena gue yang kurang informasi.

Intinya, sebagai sesama mahluk ciptaan Tuhan YME, seharusnya sapi pun perlu kita perhatikan karena merupakan hewan yang lemah, terikat tidak bisa kemana-mana. Oh seandainya masyarakat dan Pemda lebih cerdas dengan merelokasi sapid an kerbau tersebut ke tempat yang lebih aman. Atau bisa juga dtampung sementara di halaman kantor Bupati dan Camat setempat…lumayan bisa jadi tempat display jualan Qurban, siapa tahu ada yang berniat beli mahal…..hehehehe

2 Comments

  1. anjuran yang sangat baik, bisa dimulai dengan menindaklanjuti program2 penanggulangan bencana merapi yang telah ada, lokasi2 penampungan pengungsi didata, dibenahi, ditambah fasilitas untuk ternak, mulai sekarang dan selanjutnya dibangun kemitraan dan koordinasi antara masyarakat sekitar lokasi penampungan dan masyarakat lereng merapi…rencanakan agar terjadi mutualisme simbiosis antara kedua kelompok masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s