Khayalan Pribadi tentang Pohon
Di kesendirian gue setiap pergi maupun pulang Jakarta – Bandung, seringkali terbesit bayangan seandainya gue punya uang yang sangat banyak, mungkin trilyunan milyar juta rupiah atau dollar, maka gue membayangkan beli tanah sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya. Kemudian gue akan pergi ke bank benih tanaman dunia dan minta mereka untuk menjual seberapa harganyapun benih-benih palsma nutfah. Akan gue beli semuanya tanpa terkecuali jenis tanaman yang tidak berbuah atau menghasilkan nilai ekonomis sekalipun. Kemudian tanah-tanah tersebut akan gue tanam dengan benih yang sudah gue dapatkan. Akan gue pekerjakan ribuan orang untuk merawat tanaman tersebut dan mengkultivasi tanah-tanahnya agar senantiasa gembur, dengan gaji yang layak sesuai dengan keahlian masing-masing.
Ah, angan-angan tersebut tidak terlalu imajiner alias masih mungkn untuk menjadi kenyataan. Akhirnya gue sering juga berkhayal mengenai hal yang lebih imajiner. Gue dan beberapa orang di dunia ini tiba-tiba diberikan kekuatan super seperti halnya Superman, Spiderman, Son Goku, atau Ultraman. Dengan kekuatan tersebut akhirnya gue dan beberapa orang tersebut membentuk Aliansi Hijau. Aliansi ini bertujuan untuk menghijaukan kembali seluruh lapisan bumi agar seimbang antara modernisasi dan penghijauan.
Pada satu ketika di Jakarta, Aliansi Hijau memberi ultimatum kepada pemilik gedung yang tanahnya menyalahi aturan Pemda DKI agar gedung tersebut segera dikosongkan dalam waktu 24 jam. Tanpa basa-basi, ketika habis masanya, Aliansi Hijau meluluhlantakkan gedung tersebut sehingga rata dengan tanah. Kemudian seorang superhero yang punya kekuatan dapat menumbuhkan tanaman dalam waktu singkat langsung mengambil alih komando dengan melempar ratusan benih dari kantong supernya dan dalam sekejap benih tersebut tumbuh menjadi tanaman hutan rimba yang lebat dan besar. Hal ini dilakukan di banyak tempat di Jakarta sehingga dalam waktu yang tidak lama, Jakarta telah berubah menjadi sebuah kota metropolitan yang ramah akan lingkungan.
Ya…itulah sekedar menceritakan angan-angan dan khayalan gue untuk meredam rasa amarah gue terhadap para penguasa dan juga sekelompok masyarakat yang sama sekali tidak menyadari pentingnya arti keseimbangan antara membangun dan melestarikan alam. Gue marah dengan negara-negara yang tidak bear-benar berjuang untuk mewujudkan suatu sustainable development di negaranya sendiri dan hanya memikirkan ekonomi semata. Hijau ini bukan untuk kita dan nenek moyang, tapi hijau ini adalah Titipan Cucu Cicit Kita yang Diamanahkan kepada Kita yang Hidup Sekarang ini.
Juni 23, 2008 pada 2:29 pm
ok pik, untuk itu kita mulai dr yg kecil dulu aja, kita brenti ngerokok…gimana?
masih tetap punya mimpi yg sama?…hihi..
kalo gue ntar2an dulu sih..hehe
Juni 26, 2008 pada 11:30 am
mungkin kita coba hemat pengunaan kertas..biar tidak banyak kertas terbuang..atau mendaur ulang kertas
Juni 27, 2008 pada 10:38 am
boleh aja mo nanem pohon sebanyak mungkin di Jakarta…tapi mo lo tanem dimana? di Jakarta kan udah ga ada tanah kosong lagi…udah abis buat bikin kantor, mall n jalan layang…sedangkan yang ada kosong dikit aja, kebanjiran mulu…Pak Fauzi Bowo bantuin Piko donk.. :p